Minggu, 08 April 2012

Laporan Keuangan Bank Syariah Dan Bank Konvensional

I. PENDAHULUAN

ARTI SYARIAH

SYARIAH adalah sebutan bagi berbagai peraturan dan hukum yang telah ditetapkan Allah SWT atau ditetapkan prinsip-prinsipnya, lalu diwajibkan kepada kaum muslimin agar berpegang teguh pada ketetapan tersebut dalam melakukan kegiatan sehari-hari dalam berhubungan dengan Allah dan manusia.

BANK ISLAM

Bank Islam adalah bank yang beroperasi sesuai dengan “Prinsip-prinsip Syariah Islam” serta tata cara beroperasinya mengacu pada ketentuan-ketentuan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Prinsip-prinsip Syariah Islam tersebut adalah

§ Truthfulness (kebenaran)

§ Trust (kepercayaan)

§ Sincerity (kesucian)

§ Brotherhood (kekeluargaan)

§ Sience dan Knowledge (Ilmu dan pengetahuan)

§ Justice (Keadilan)

Secara International perbankan syariah dikenal sebagai:

§ Islamic bank (bank Islam)

§ Interest Free bank (bank tanpa bunga)

Secara historis Konsep dan praktek transaksi ekonomi yang sejalan dengan prinsip syariah telah dikembangkan sejak lama. Namun awal sejarah perbankan syariah modern relatif baru yakni sejak berdirinya MIT GHAMIR BANK DI MESIR oleh Dr. Ahmed El-Najar (1963 – 1967). Bank pedesaan ini beroperasi tanpa bunga dan sejalan dengan prinsip-prinsip syariah dinilai berhasil. Tetapi pada th 1967 ditutup karena alasan politis.

LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAH

Akuntansi bertujuan untuk memberikan informasi keuangan yang berguna untuk pengambilan keputusan bagi para pemakai informasi. Agar akuntansi bisa menyampaikan informasinya kepada pengguna, maka diperlukan laporan keuangan. Laporan keuangan bnak syariah terdiri dari:

1. Neraca

2. Laporan laba Rugi

3. Laporan Perubahan ekuitas

4. Laporan arus kas

5. Laporan perubahan dana investasi terkait

6. Laporan sumber dan penggunaan dana qardhul hasan

7. Laporan sumber dan penggunaan dana zakat, infak, shodaqoh

8. Catatan atas laporan keuangan

Contoh Laporan Keuangan Bank Syariah

BANK SYARIAH MANDIRI

NERACA

Per 30 April 2007

NO

AKTIVA

KEWAJIBAN & MODAL

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

Aktiva:

Kas

Penempatan pada BI

Giro Pada Bank Lain

Penempatan Pada Bank lain

Surat-surat berharga (SB)

Piutang

a. Piutang Mudharabah

b. Piutang Musyarakah

c. Piutang Lainnya

Pembiayaan Mudharabah

Pembiayaan Musyarakah

Pinjaman Qard

Ijarah

Penyertaan Pada Enteties Lain

Persedian

Aktiva Tetap

Ak. Peny. Aktiva Tetap

Piutang Pendapatan Bagi Hasil

Piutang Pendapatan Ijarah

1

2

2.1

2.2

2.3

3

Kewajiban:

a. Kewajiban segera

b. Bagi Hasil yg belum dibagikan

c. Simpanan Wadiah

d. Simpanan dari bank lain

e. HutangKewajiban lain-lain

f. Kewajiban aksepatasi

g. Kewajiban Dana Investasi Terikat

h. Hutang Pajak

i. Pinjaman yang diterima

j. Pinjaman Subordinasi

Investasi Tidak Terikat :

Dari Bukan bank

a. Tabungan Mudarabah

b. Deposito Mudarabah

Dari bank

a. Tabungan Mudarabah

b. Deposito Mudarabah

Surat Berharga yang diterbitkan

Ekuitas :

a. Modal Disetor

b. Tambahan Modal Disetor

c. Saldo Laba Tahun Lalu

d. Saldo Laba

Total Aktiva

Total Kewajiban, Investasi Tidak terikat & Ekuitas

BANK SYARIAH MANDIRI

LAPORAN LABA/RUGI

Per 30 April 2007

1.1

1. 2

1.3

1.4

2.

3

4.

5

6

7

Pendapatan Operasi Utama :

Pendapatan Dari Jual Beli:

1. Murabahah

2. Istishna

1. Lainnya

Pendapatan dari bagi hasil

1. Musyarakah

2. Mudharabah

3. Lainnya

Pendapatan Sewa

Pendapatan Operasi Utama lainya

TOTAL PENDAPATAN OPERASI UTAMA BAGIAN

BANK SEBAGAI MUDHARIB

HAK PIHAK KETIGA ATAS BAGI HASIL INVESTASI TIDAK TERIKAT.

2.1 Bagi Hasil Tabungan

2.2 Bagi Hasil Deposito

2.3 Bagi Hasil penempatan dana

2.4 Bagi Hasil Surat Berharga

Total Hak Pihak ketiga

Pendapatan Operasi Utama

Pendapatan Operasi Lainnya:

3.1 Pendapatan Free Rahn

3.2 Pendapatan fee jasa-jasa

3.3 Pendapatan fee investasi terikat

3.4 Pendapatan administrasi

Total Pendapatan Operasi Lainnya

Beban Operasi Lainnya:

4.1 Beban bonus wadiah

4.2 Beban penyusutan AT

4.3 Beban transaksi premi dalam rangka

pejaminan

4.4 Beban sewa

4.5 Beban adm & umum

Total Beban Operasi Lainnya:

Pendapatan Operasi bersih

Pendapatan Non Operasi

Beban Non Operasi

Laba Sebelum Zakat &Pajak

Zakat

Laba Sebelum Pajak Penghasilan

Taksiran Pajak Penghasilan

Laba bersih

xxx

xxx

xxx

xxx

xxx

xxx

xxx

xxx +

xxx

xxx

xxx

xxx +

xxx

xxx

xxx

xxx +

xxx

xxx

xxx

xxx

xxx +

xxx

xxx -

xxx

xxx

xxx -

xxx

xxx

(xxx)

Xxx

Xxx -

xxx

xxx -

xxx

BANK SYARIAH MANDIRI

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

Per 30 April 2007

————————————————————————————————–

Modal Awal xxx

Laba/Rugi tahun lalu -

Laba/rugi tahun berjalan xxx

Deviden kas (xxx)

Saldo ekuitas tahun ini xxx

A.ANALISIS Arti Dan Pentingnya Aktiva

Sebagai lembaga pemberi jasa-jasa keuangan dalam lalu lintas pembayaran, maka bank memberikan berbagai fasilitas kepada nasabah, Loanable funds dari bank terbesar diberikan dalam bentuk fasilitas kredit. Akan tetapi, sebagian dana itu disisihkan dalam bentuk penanaman lain, yaitu surat-surat berharga, penempatan dana pada bank lain dan penyertaan modal bank pada lembaga keuangan yang bukan bentuk bank atau perusahaan lain.
Aktiva yang produktif atau productive assets sering juga disebut dengan earning assets atau aktiva yang menghasilkan, karena penempatan dana bank tersebut diatas adalah untuk mencapai tingkat penghasilan yang diharapkan.
Aktiva produktip adalah penaman bank dalam bentuk kredit, surat berharga, penyertaan dan penanaman laiinya yang dimaksudkan untuk memperoleh penghasilan.
Pengelolaan aktiva produktip adalah bagian dari assets management yang juga mengatur tentang cash reserve (liquidity assets) dan fixed assets (aktiva tetap dan inventaris).

Ada empat macam aktiva produktif atau aktiva yang menghasilkan (earning assets), yaitu :
a. Kredit yang diberikan
b. Surat-surat berharga
c. Penempatan dana pada bank lain
d. Penyertaan
Keempat jenis aktiva diatas kesemuanya menggunakan loanable funds atau excess reserve sehingga dengan memperhatikan bahwa sumber dana terbesar untuk penempatan aktiva itu adalah berasal dari dana pihak ketiga dan pinjaman, maka resiko yang mungkin timbul atas penempatan/alokasi dan tersebut harus diikuti dan diamati terus melalui analisis-analisis resiko.
Semua dalam usaha menanamkan dana tersebut mengundang resiko dimana tidak terbayar kembali atas kredit yang telah diberikan. Sementara itu penanaman dalam bentuk kredit merupakan bagian terbesar dari aktiva operasional dan aktiva secara keseluruhan. Karena itu pengamatan dan analisis tentang bagaimana kualitas dari aktiva produktif harus dilakukan terus menerus.

Kredit menjadi sumber pendapatan dan keuntungan bank yang terbesar. Disamping itu kredit juga merupakan jenis kegiatan penanaman dana yang sering menjadi penyebab utama bank menghadapi masalah besar. Maka tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa usaha bank sangat dipengaruhi oleh keberhasilan mereka mengelola kredit. Usaha bank yang berhasil mengelola kreditnya akan berkembang, sedangkan usaha bank yang selalu dirong-rong kredit bermasalah akan mundur.

B.ANALISIS RISIKO PERBANKAN SYARIAH

Landasan filosofis dari sistem keuangan syariah melampaui interaksi faktor-faktor produksi dan perilaku ekonomi. Sementara sistem keuangan konvensional berfokus pada aspek-aspek ekonomi dan keuangan dari setiap transaksi, sistem syariah menitikberatkan pada dimensi etika, moral, sosial, dan keagamaan yang berusaha untuk meningkatkan kesetaraan dan keadilan bagi kebaikan masyarakat secara keseluruhan. Sistem ini dapat sepenuhnya dimengerti dalam konteks ajaran Islam mengenai etos kerja, distribusi kekayaan, keadilan sosial dan ekonomi, serta peran negara.

Sistem keuangan syariah adalah bagian yang berkembang pesat dari sektor keuangan dunia. Sistem keuangan ini tidak terbatas pada negara-negara Islam dan terdapat di mana ada komunitas Muslim yang cukup besar. Baru-baru ini, sistem keuangan syariah telah menarik perhatian pasar keuangan konvensional. Menurut beberapa perkiraan, lebih dari 250 lembaga keuangan di lebih dari 45 negara mempraktikkan suatu bentuk dari sistem keuangan syariah, dan industri ini berkembang pada tingkat yang lebih besar dari 15% per tahun selama lima tahun terakhir. Omzet tahunan pasar saat ini diperkirakan sebesar $350 miliar, dibandingkan dengan hanya $5 miliar pada 1985. Sejak munculnya bank syariah pada awal 1970, banyak penelitian telah dilakukan dengan berfokus pada kelangsungan hidup, desain, dan operasi dari lembaga keuangan “penerima-simpanan” yang mempunyai fungsi utama berdasarkan kemitraan laba-rugi dan bukan pembayaran atau penerimaan bunga, suatu elemen yang dilarang dalam Islam.

A.Analisis Tingkat Kesehatan Perbankan Syariah

Tingkat Kesehatan Bank adalah hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu Bank atau UUS melalui:

1. Penilaian kuantitatif dan penilaian kualitatif terhadap faktor-faktor permodalan, kualitas aset, rentabilitas, likuiditas, sensitivitas terhadap risiko pasar; dan

2. Penilaian kualitatif terhadap faktor manajemen.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bank yang sehat adalah bank yang dapat menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik. Dengan kata lain, bank yang sehat adalah bank yang dapat menjaga dan memelihara kepercayaan masyarakat, dapat menjalankan fungsi intermediasi, dapat membantu kelancaran lalu lintas pembayaran serta dapat digunakan oleh pemerintah dalam melaksanakan berbagai kebijakannya, terutama kebijakan moneter.

Dengan menjalankan fungsi-fungsi tersebut diharapkan dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat serta bermanfaat bagi perekonomian secara keseluruhan. Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik, bank harus mempunyai modal yang cukup, menjaga kualitas asetnya dengan baik, dikelola dengan baik dan dioperasikan berdasarkan prinsip kehati-hatian, menghasilkan keuntungan yang cukup untuk mempertahankan kelangsungan usahanya, serta memelihara likuiditasnya sehingga dapat memenuhi kewajibannya setiap saat.

Tujuan

Kekuatan mengenai tingkat kesehatan bank dimaksudkan untuk dapat dipergunakan sebagai:

1. Tolak ukur bagi manajemen bank untuk menilai apakah pengelolaan bank telah dilakukan sejalan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.

2. Tolak ukur untuk menetapkan arah pembinaan dan pengembangan bank baik secara individual maupun industri perbankan secara keseluruhan.

Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Syariah

Tingkat kesehatan bank pada dasarnya dinilai dengan pendekatan kualitatif dengan mengadakan penilaian atas factor-faktor: permodalan (capital), kualitas aset (asset quality), manajemen (management), rentabilitas (earning), likuiditas (liquidity) dan sensitivitas terhadap risiko pasar (sensitivity to market risk) atau bisa disebut dengan metode CAMELS. Setiap factor yang dinilai terdiri dari beberapa komponen, dimana masing-masing factor beserta komponennya diberikan bobot yang besarnya disesuaikan dengan pengaruh terhadap kesehatan bank.

Penilaian factor dan komponen dilakukan dengan system kredit (reward system) yang dinyatakan dalam nilai kredit sebesar 0 hingga 100. Hasil penilaian atas dasar bobot dan nilai kredit dari berbagai factor yang dinilai (CAMELS) dapat dikurangi dengan nilai kredit atas pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang sanksinya dikaitkan dengan penilaian tingkat kesehatan bank. Meskipun secara umum faktor CAMEL relevan dipergunakan untuk semua bank, tetapi bobot masing-masing faktor akan berbeda untuk masing-masing jenis bank. Dengan dasar ini, maka penggunaan factor CAMEL dalam penilaian tingkat kesehatan dibedakan antara bank umum dan BPR. Bobot masing-masing faktor CAMEL untuk bank umum dan BPR ditetapkan sebagai berikut :

Tabel Bobot CAMEL

No.

Faktor CAMEL

Bobot

Bank Umum

BPR

1.

2.

3.

4.

5.

Permodalan

Kualitas Aktiva Produktif

Kualitas Manajemen

Rentabilitas

Likuiditas

25%

30%

25%

10%

10%

30%

30%

20%

10%

10%

Adapun penilaian untuk menentukan tingkat kesehatan bank dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan nilai factor permodalan, kualitas aktiva produktif (Asset), Manajemen, Rentabilitas (Earning Power), dan likuiditas. Nlai untuk masing-masing factor dihitung dengan nilai kredit yang berkisar dari 0 sampai 100 , denagn bobt yang berbeda untuk masing-masing factor berikut :

JENIS

NILAAI KREDIT (NK)

BOBOT

NK DG BOBOT

1. Modal

(0-100)

25%

(0-25)

2. K.A.P

(0-100)

30%

(0-30)

3. Manajemen

(0-100)

25%

(0-25)

4. Rentabilitas

(0-100)

10%

(0-10)

5. Likuiditas

(0-100)

10%

(0-10)

Nilai kredit factor CAMEL (0-100)

Sesudah menghitung nilai kredit dari masing-masing factor sesuai dengan bobotnya , maka semua nilai kredit akan dijumlahkan untuk memperoleh nilai kredit terhadap lima factor yang dikualifikasikan tersebut, akan tetapi ini belum menjadi penilaian akhir. Karena masih ada factor-faktor yang menjadi penambah nilai kredit jika dipenuhi atau menjadi pengurang nilai kredit jika terjadi pelanggaran. Adapun factor-faktor tersebut adalah :

FACTOR-FAKTOR

DILARANG

DIPENUHI

Kredit Usaha Kecil (KUK)

mengurangi

menambah

Kredit Ekspor (KE)

mengurangi

menambah

Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK)

mengurangi

Posisi Devisa Netto (PDN)

mengurangi

Setelah dilakukan penambahan atau penguranagan nilai kredit, maka dapat ditentukan hasil penilaian yang digolongkan menjadi 4 kriteria tingkat kesehatan bank:

NILAI KREDIT

PREDIKAT

81 - 100

Sehat

66 - < 81

Cukup sehat

51 - < 66

Kurang sehat

0 - < 51

Tidak sehat

Predikat tingkat kesehatan bank yang sehat atau cukup sehat atau kurang sehat akan diturunkan menjadi tidak sehat apabila terdapat :

Perselisihan interen yang diperkirakan akan menimbulkan kesulitan dalam bank yang bersangkutan;

Campur tangan pihak-pihak di luar bank dalam kepengurusan (manajemen) bank, termasuk didalamnya kerjasama yang tidak wajar yang mengakibatkan salah satu atau beberapa kantornya berdiri sendiri;“window dressing” dalam pembukuan .

Praktek “bank dalam bank” atau melakukan usaha bank di luar pembukuan bank;

Kesulitan keuangan yang mengakibatkan penghentian sementara atau pengunduran diri dari keikutsertaanya dalam kriling.

Contoh Laporan Keuangan Bank Konvensional

Tingkat Kesehatan Bank


Akhir tahun 2011, membukukan total aset sebesar Rp 299,06 triliun atau naik 20% dibanding posisi aset pada akhir tahun 2010 sebesar Rp 248,58 triliun. Total pinjaman/kredit yang disalurkan juga tumbuh 20% dari Rp 136,36 triliun menjadi Rp 163,53 triliun. Komposisinya 75,5% disalurkan di sektor business banking dan 21,2% sektor konsumer dan retail, dan sisanya berupa pembiayaaan anak perusahaan. Akhir tahun 2011, membukukan total aset sebesar Rp 299,06 triliun atau naik 20% dibanding posisi aset pada akhir tahun 2010 sebesar Rp 248,58 triliun. Total pinjaman/kredit yang disalurkan juga tumbuh 20% dari Rp 136,36 triliun menjadi Rp 163,53 triliun. Komposisinya 75,5% disalurkan di sektor business banking dan 21,2% sektor konsumer dan retail, dan sisanya berupa pembiayaaan anak perusahaan.






1 komentar: